FUNGSI PARTAI YANG LUNTUR DIMAKAN KEKUASAAN
Tahun 2014 sudah kita lalui 1 bulan, selanjutnya bulan
februari akan kita songsong tidak kurang lagi 73 hari menuju Pemilu legislatif
di tanggal 9 April ini. Komisi Pemilihan Umum ( KPU) sudah mulai membagikan logistik
untuk pemilu mulai dari surat suara, Berita Acara Pemilihan, ke semua KPU
provinsi, Kabupaten, KPPS dan PPS di semua Indonesia.
Selain itu para para calon –calon sudah mulai berkampanya,
seperti dengan blusukan langsung mendengarkan kluh kesah masyarakat, ada dengan
mendatangi posko-posko pengungsian, ada yang memasang foto-foto mereka di
sepanjang jalan, bahkan ada yang menggunakan jejaring sosial seperti Facebook,
twitter untuk berkampanye.
Rakyat pun sudah mulai menyeleksi siapa yang akan menjadi
penyambung lidahnya. Tapi sayang pengetahuan mereka kurang terhadap PEMILU
terlihat dari wawancara yang dilakukan oleh sebuah stasiun televisi nasional
terhadap masyarakat rata-rata mereka tidak mengetahui tentang waktu
pelaksanaan, jumlah peserta, dan kursi yang akan diperebutkannya. Walau itu
tidak bisa dijadikan acuan untuk menyatakan bahwa rakyat tidak tau tentang
Pemilu ini.
Pembelajaran politik ini harus menjadi prioritas bagi semua
agar terpenuhi asas pemilu yang luberjurdil ini, peran parpol di sini sangan di
perlukan karena salah satu fungsi parpol adalah untuk memberika politic education untuk masyarakat.
Pendidikan politik ini bisa dengan kampanye yang baik dalam artian tidak adanya
money politic dan kampanye hitam, serta rekrutmen kader yang selektif, serta
para parpol ini tidak memberikan janji-janji surgawi yang tidak akan dilakukan
nanti.
Tapi melihat realitas sekarang politik pendidikan ini
jarang dilakukan oleh parpol-parpol baik sebelum,saat dan sesudah pemilu
kebanyakan mereka hanya mengurusi tentang bagaimana mendapatkan suara yang
banya dengan simpati dan pencitraa, serta bagaimana suara mereka tetap tinggi
di pemilu yang akan datang, serta bagaimana mempertahankan suara itu agar tidak
berpindah tempat ke parpol lain.
Para caleg pun kebanyakan hanya melakukan kampanya standar
dalam artian hanya mengumbar janji, bagi sembako dan hiburan dengan musik
dangdut. Para caleg tidak memberikan pendidikan politik seperti memberitau
tentang tata cara pemilihan, fungsi dari rakyat dan caleg tersebut, serta
solusi yang mereka berikan untuk menyelesaikan maslah-masalah di negeri ini
Keadaan seperti ini harus dirubah agar demokrasi kita
menjadi baik, seperti yang sering orang-orang berdasi katakan di dewan agar
pdemokrati, makanya fungsi itu hendaknya difungsikan kembali, dengan cara
rekrutmen kader partai yang diperbaiki selain mencari yang tajir juga yang
memang mempunyai visi dan misi yang kuat untuk membangun negeri ini, serta
inovatif dalam berkampanye, atau mungkin hal yang jarang dilakukan adalah memberikan
beasiswa pendidikan kepada para anak muda kita.
Demokrasi yang akan kita hadapi ini sesungguhnya akan
berjalan baik jika kita berintegrasi untuk membuat ini baik. Dan itu dimulai
dari partai politik sebagai kelompok politik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar