Senin, 14 April 2014



FUNGSI PARTAI YANG LUNTUR DIMAKAN KEKUASAAN
Tahun 2014 sudah kita lalui 1 bulan, selanjutnya bulan februari akan kita songsong tidak kurang lagi 73 hari menuju Pemilu legislatif di tanggal 9 April ini. Komisi Pemilihan Umum ( KPU) sudah mulai membagikan logistik untuk pemilu mulai dari surat suara, Berita Acara Pemilihan, ke semua KPU provinsi, Kabupaten, KPPS dan PPS di semua Indonesia.
Selain itu para para calon –calon sudah mulai berkampanya, seperti dengan blusukan langsung mendengarkan kluh kesah masyarakat, ada dengan mendatangi posko-posko pengungsian, ada yang memasang foto-foto mereka di sepanjang jalan, bahkan ada yang menggunakan jejaring sosial seperti Facebook, twitter untuk berkampanye.
Rakyat pun sudah mulai menyeleksi siapa yang akan menjadi penyambung lidahnya. Tapi sayang pengetahuan mereka kurang terhadap PEMILU terlihat dari wawancara yang dilakukan oleh sebuah stasiun televisi nasional terhadap masyarakat rata-rata mereka tidak mengetahui tentang waktu pelaksanaan, jumlah peserta, dan kursi yang akan diperebutkannya. Walau itu tidak bisa dijadikan acuan untuk menyatakan bahwa rakyat tidak tau tentang Pemilu ini.
Pembelajaran politik ini harus menjadi prioritas bagi semua agar terpenuhi asas pemilu yang luberjurdil ini, peran parpol di sini sangan di perlukan karena salah satu fungsi parpol adalah untuk memberika  politic education untuk masyarakat. Pendidikan politik ini bisa dengan kampanye yang baik dalam artian tidak adanya money politic dan kampanye hitam, serta rekrutmen kader yang selektif, serta para parpol ini tidak memberikan janji-janji surgawi yang tidak akan dilakukan nanti.
Tapi melihat realitas sekarang politik pendidikan ini jarang dilakukan oleh parpol-parpol baik sebelum,saat dan sesudah pemilu kebanyakan mereka hanya mengurusi tentang bagaimana mendapatkan suara yang banya dengan simpati dan pencitraa, serta bagaimana suara mereka tetap tinggi di pemilu yang akan datang, serta bagaimana mempertahankan suara itu agar tidak berpindah tempat ke parpol lain.
Para caleg pun kebanyakan hanya melakukan kampanya standar dalam artian hanya mengumbar janji, bagi sembako dan hiburan dengan musik dangdut. Para caleg tidak memberikan pendidikan politik seperti memberitau tentang tata cara pemilihan, fungsi dari rakyat dan caleg tersebut, serta solusi yang mereka berikan untuk menyelesaikan maslah-masalah di negeri ini
Keadaan seperti ini harus dirubah agar demokrasi kita menjadi baik, seperti yang sering orang-orang berdasi katakan di dewan agar pdemokrati, makanya fungsi itu hendaknya difungsikan kembali, dengan cara rekrutmen kader partai yang diperbaiki selain mencari yang tajir juga yang memang mempunyai visi dan misi yang kuat untuk membangun negeri ini, serta inovatif dalam berkampanye, atau mungkin hal yang jarang dilakukan adalah memberikan beasiswa pendidikan kepada para anak muda kita.
Demokrasi yang akan kita hadapi ini sesungguhnya akan berjalan baik jika kita berintegrasi untuk membuat ini baik. Dan itu dimulai dari partai politik sebagai kelompok politik.



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar