Kamis, 19 Februari 2015

DUNIA ANNA

Judul : Dunia Anna sebuah novel filsafat semesta (Anna. En fabel om klodens klima og miljØ)
Penulis : Jostein Gaarder
Penerbit : Mizan
T terbit : 2014
Halaman : 244
Ulasan cerita
            Novel yang dibuat oleh Pengarang bestseller Dunia Sopihe ini menceritakan tentang kehidupan seorang perempuan yang bernama Anna berusia 16 tahun yang peduli terhadap perubahan iklim atau yang terkenal dengan pemanasan global. Anna tepat tanggal 12.12.12 berulang tahun yang ke 16 tahun dan tepat pada usianya yang 16 tahun tersebut akan diberikan cincin warisan keluarganya yang diprediksi telah berusia ratusan tahun dan berasal dari cerita Aladin 1001 malam. Anna seorang yang mempunyai kelebihan dalam berimajinasi karena dia bisa merasakan berada dalam diri gajah, firaun, bahkan didalam diri cicitnya. Dengan keadanya yang seperti itu mereka berkonsultasi dengan psikiater bernama Dr. Benjamin dan disana Anna melakukan obrolan yang selama ini dia tidak rasakan yaitu obrolan tentang perubahan alam semesta ini.
            Anna pun sering bermimpi tentang cicitnya yang bernama Nova bahkan Anna pernah membuat surat buat cicitnya yang berada pada tahun 2082 itu tepat pada usia 16 tahunnya “Nova sayang, aku tidak tahu bagaimana rupa dunia saat kau membaca ini. tapi, kau tentu tahu. Kau tau bagaimana kesudahan perusakan iklim, seberapa menurunya kondisi alam dan mungkin tahu secara terperinci jenis-jenis hewan dan tumbuhan apa saja yang telah punah...............ketika kita alih-alih menyebutkanya dengan kata konsumsi atau pemanfaatan, itu mungkin karena kita tidak menyadari bahwa semua itu ada batasnya. Cangkir tidak penuh. Satu kata yang hampir-hampir tidak dipergunakan lagi ialah sebuah kata yang pendek yaitu cukup. Kita sebaliknya menyandingkan diri dengan sebuah kata lain, yang juga pendek kita berkata lagi.......para politisi berkata bahwa kita harus terus mencari minyak sampai batas tetesan terakhir karena dunia membutuhkan energi lain. Dunis membutuhkan lebih banyak minyak dan gas untuk mengentaskan orang-orang dari kemiskinan, kata mereka. Tapi mereka bohong. Mereka tahu bahwa mereka tidak didorong oleh kepentingan orang miskin. Mereka tentu saja sadar bahwa pembakaran minyak dan batu bara yang dilakukan sikaya hanya akan memperparah kondisi si miskin, .......sedikit sekali kesadaran bahwa generasi-generasi sesudah kita juga akan memerlukan sebagaian dari energi ini. satu kata lagi yang jarang kami gunakan yaitu kata berhemat.”
            Novel ini mungkin terlalu berfilsafat seperti Dunia Sophie, karena ceritanya lebih ringan dan bahasanya pun mudah untuk dipahami. Walaupun alurnya sama seprti Dunia Sophie yang satu berada dalam dunia ide dan yang lainnya berada dalam dunia nyata.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar